RSS

Khutbatul Wada’

17 Agu

Izinkanlah saya pada kesempatan kali ini lebih banyak berbicara kepada anak-anak yang baru menerima ijazah Pondok.  Karena hari ini, hari terakhir saya menasehati mereka secara formal. Sebab bila mereka telah menjadi Alumni, belum tentu mereka menemui gurunya walaupun datang ke Pondok ini !. Bahkan sering kali mereka lupa bahwa mereka pernah hidup dalam alam pondok pesantren yang penuh dengan norma-norma kehidupan yang mempersiapkan mereka untuk hidup lebih baik di masa depan.

Anak-anakku.

Hari ini, adalah hari yang bersejarah bagi kalian, sebab peristiwa hari ini, merupakan ukiran sejarah bagi kehidupan kalian di masa yang akan datang. Peristiwa hari ini hendaknya dijadikan momentum untuk memotivasi  perjuangan hidupmu di masa yang akan datang,

Anak-anakku

Hari ini ribuan mata memandang, menyaksikan hasil perjuanganmu, hasil belajarmu dan hasil ketaatanmu kepada orang tua, guru dan kiyaimu. Kini kalian bisa merasakan, betapa nikmatnya hasil jerih payah yang kalian curahkan selama ini dalam mencari ilmu. Kini kalian tahu dan menjadi kenyataan, betapa benar nasihat kedua orang tuamu, betapa benar nasehat guru-gurumu. Kesungguhan, ketekunan, ketabahan dan kesabaran serta keuletan, merupakan modal utama, dalam rangka meraih sukses dalam hidupmu di Pondok ini.

Kini kalian sadar dan mengerti bahwa taat kepada orang tua, taat kepada guru dan taat kepada Allah SWT, pasti membuahkan kebahagian dan keberuntungan. Dan kini kalian lebih sadar lagi, bahwa penderitaan dan kesengsaraan dalam mengikuti disiplin dan sunnah-sunnah pondok, yang selama ini kalian rasakan sebagai pengekangan, pembatasan yang memberatkan hidupmu di Pondok ini, ternyata itu semua melahirkan kenikmatan.

Sungguh benar orang bijak bicara :

Berjalanlah sampai ke batas

Berlayarlah sampai ke pulau

Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian

Anak-anakku

Di antara kalian ada yang 4 tahun dan 6 tahun hidup di Pondok ini, masa itu cukup panjang dan dapat menentukan masa depanmu. Selama ini kalian ditempa, diatur, diarahkan dan dididik dengan disiplin yang ketat, digembleng dengan sistem belajar yang padat, dari jam 4 pagi kalian dibangunkan, digiring ke masjid, dilanjutkan dengan belajar dari pagi sampai siang bahkan hingga malam hari, sampai kalian tidur kembali, namun kalian tetap tabah, kalian tetap ta’at, bahkan kalian ikut serta berperan aktif dalam proses disiplin dengan niat beribadah kepada Allah SWT, mejadi pengurus ISMI, sehingga kini kalian tahu akan arti hidup yang sebenarnya, kini kalian merasakan nikmatnya hasil perjuanganmu dan kini kalian mulai menjadi orang yang berguna dan berharga. Karena itu hargai dirimu, jangan minta dihargai, menghargai diri berarti meletakkan diri pada tempat yang terhormat, menghargai diri berarti pula tidak mengotori diri dengan sesuatu yang rendah. Menghargai diri bisa juga dengan berbuat perbuatan-perbuatan yang baik dan meninggalkan perbuatan yang tidak bermanfaat.

Karena itu anak-anakku, pandai-pandailah melihat dan menilai sesuatu. Tidak hina orang yang mengendarai sepeda butut dengan karung goni yang kumal di belakangnya, asal kendaraan yang ia tumpangi dan barang yang ia bawa itu halal dan berguna. Sebaliknya, belum tentu orang yang bersedan mewah lagi mengkilap itu terhomat dan mulia di sisi Allah, bila ia tidak ikhlas dan berbuat curang. Oleh karena itu, pergunakan dirimu untuk maksud-maksud yang baik lagi mulia, baik bagi dirimu atau untuk orang lain.

Anak-anakku…

Nilai ijazah suatu perguruan, bukan nilai yang tertulis di balik kertas yang kamu terima, tapi nilai yang sebenarnya adalah seberapa besar jasamu terhadap masyarakat, dan seberapa besar penghargaan masyarakat terhadap jasa-jasamu!. Oleh sebab itu berjasalah kepada masyarakatmu, agar mereka selalu mengenangmu, berbuatlah untuk mereka agar keberadaanmu dirasakan manfaatnya.

Harimau mati meninggalkan belang.

Manusia mati meninggalkan nama (kenangan)

Kelebihan seseorang sangat tergantung kepada pengabdian dan kepeduliannya

Anak-anakku.

Kini kalian telah menjadi orang yang berharga, karena itu kenali dirimu, pancangkanlah cita-cita untuk masa depanmu, dan raihlah cita-citamu dengan usaha yang maksimal. Ingat anak-anakku, tidak semua teman-temanmu sampai pada batas akhir, ada yang hanya 2 tahun, ada pula yang hanya 1 tahun, bahkan ada yang hanya beberapa bulan. Namun kami tetap menghargai mereka, lebih-lebih kepada kalian yang sampai kepada garis finish, karena itu bersyukurlah kepada Allah SWT, berterima kasihlah kalian kepada ibu-bapakmu, kepada guru-gurumu bahkan kepada teman-temanmu yang selama ini menyertaimu untuk maju dan berkembang sehingga sampai batas.

Ingat anak-anakku

Kehancuran hidup manusia seringkali terjadi  karena tidak mampu untuk mengenal dirinya. Kecil mengaku besar, besar tidak tahu akan kebesarannya, akhirnya ia jatuh tersungkur ke lembah kehinaan. Untuk itu anak-anakku, sering-seringlah kalian bertanya kepada diri sendiri di manapun kalian berada….Who am I?  man ana ? siapa aku ini ?.

Anak-anakku,

Orang yang mampu mengenali diri sendiri merekalah yang memiliki kemampuan untuk maju dan berkembang, serta berbudi luhur dan berakhlak mulia. Hati-hatilah wahai anak-anaku, kini banyak manusia tidak berakhlak, hati mereka buta, tidak sanggup lagi merasakan derita orang lain, tidak sanggup lagi  menghargai orang lain, itu semua karena mereka tidak lagi berpedoman pada hati nuraninya.

Anak-anakku yang saya banggakan,

Di tengah-tengah kebahagian dan suka ria yang kalian rasakan kini, jangan lupa dibalik itu ada faktor pendukung utama kesuksesanmu, faktor itu adalah kedua orang tuamu. Merekalah yang selama ini menjadi tulang punggung keberhasilan kalian, karena itu, jangan kalian pandang mereka dengan sebelah mata, jangan kalian sia-siakan mereka, jangan kalian berlaku angkuh kepada mereka. Pandanglah mereka dengan kedua matamu, pandanglah mereka dangan mata hatimu, dengan nuranimu!

Anak-anakku,

Kini mereka hadir disini, ingin menyaksikan anak-anaknya yang tercinta, bergumul dalam diri mereka rasa haru, bangga, harapan, diiringi dengan tetesan air mata serta do’a, agar anaknya menjadi manusia yang berguna lagi sholeh. Lihatlah oleh kalian wajah-wajah mereka, terpancar dari roman mereka ketulusan cinta, keihlasan dan kasih sayang yang murni tanpa batas.

Pantaskah kalian berlaku ingkar kepadanya?

Pantaskah kalian tidak taat kepadanya?

Pantaskah kalian tidak respek kepadanya?

Pantaskah kalian tidak hormat kepadanya?

Ingat anak-anakku, jas yang kalian pakai dan membuat penampilanmu gagah, dasi yang melilit di lehermu, sepatu yang mengkilat di kakimu, saya yakin itu semua bukan dibeli dengan uangmu. Ingat anak-anakku, 4 tahun atau bahkan 6 tahun kalian tinggal di Pondok ini, kalian tinggal makan, kalian tinggal berpakaian, kalian tinggal belajar, kalian tinggal tidur dan main! Itu semua karena bapak dan ibumu yang membiayaimu!

Bodoh kamu nak!!, jika tidak hormat kepadanya, bahkan dosa besar, bila kalian tidak berterima kasih kepadanya.

Anak-anakku!

Sebodoh-bodohnya orang tua, jangan langkahi mereka: sejelek-jeleknya orang tua, jangan hinakan  mereka, sebab cinta kasih mereka itu murni tiada taranya, kasih sayang mereka itu tiada noda dan batas, sampai-sampai ada pepatah:

”Bila orang tua kaya anak menjadi raja, tapi bila anak yang kaya orang tua menjadi hamba”.

Anak-anakku, manfaatkan ilmumu, pergunakan ilmumu, selagi kalian punya kesempatan untuk memanfaatkannya….!

Dalam memanfaatkan ilmumu jangan pilih-pilih tempat mengabdi. Jangan ragu-ragu untuk berbakti. Jangan bimbang utnuk memafaatkan ilmu yang telah kalian peroleh…!

Ingat, kita tidak diberitahu kapan kita mati; tapi kita tahu kita akan mati…!

Karena itu persiapkan bekal untuk mati, dengan mengamalkan ilmumu, mengajar ngaji di surau dengan lampu cempor, itu mulia, asal kalian ihlas melakukannya. Mengajar diperguruan tinggi belum tentu mulia di sisi Allah SWT., bila kalian tidak ikhlas melakukannya.

Anak-anakku,

Kefasihanmu berbicara bahasa Arab dan Inggris, kemahiranmu berpidato dalam bahasa Indonesia adalah berkat guru-gurumu. Tahukah kalian, apa harapan kami, gurumu, orang tuamu yang selama ini merintih menangis di hadapan Allah SWT ; kami memendam cita-cita, keinginan, harapan; kami selalu berdo’a:

“Tuhanku, anugerahilah aku dari sisi-Mu keturunan yang baik…! Sesungguhnya engkau Maha Mendengar do’a”

Mengapa kami merintih, memohon kepada Allah SWT; karena kami sadar akan peringantan Allah SWT, dalam al-Qur’an :

”Dan hendaknya mereka takut, seandainya mereka meninggalkan di belakang mereka keturunan yang lemah, maka bertaqwalah kepada Allah dan berbicaralah dengan perkataan yang benar ”.

Anak-anakku,

Kedua orang tuamu, sering duduk bersimpuh di hadapan Allah memohon dan berdo’a;

“Ya Allah ya Tuhan anugerahkanlah kepada kami dari istri dan keturuan kami buah hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa”.

Anak-anakku,

Itu semua mereka lakukan karena mereka sadar akan perintah Allah dalam surat Maryam ayat 59,

“Maka datang setelah mereka generasi yang meninggalkan shalat dan mentuhankan hawa nafsu, maka mereka akan menemukan kesesatan.

Anak-anakku.

Almamatermu telah menempa kalian untuk menjadi manusia yang mampu membedakan yang hak dan yang batil, almamatermu telah mendidikmu menjadi generasi yang siap untuk terbang mengangkasa dalam kehidupan yang lebih luas…! Jangan salahkan almamatermu kalau tidak maju! Kini kami selesai menbekali kalian, dengan kunci-kunci untuk mampu maju dan berkembang , tinggal seberapa usahamu untuk mengembangkan diri.

Anak-anakku,

Kini kalian telah selesai dari satu proses pendidikan, namun dihadapanmu masih terdapat perjuangan panjang untuk mengayuh hidup dalam lingkungan yang lain.

Pesan kami, gurumu :

“Jadilah ikan hidup, jangan jadi ikan mati”

“Hidup di dunia ini hanya sekali, karena itu hiduplah yang berarti;

Anak-anakku

Apapun kesulitan yang dihadapi, tetap harus berani hidup jangan takut mati; bila tak berani hidup, mati saja….!

Berjuanglah kalian sampai tetes darah pengahabisan.

Berani hidup, tak takut mati; takut mati jangan hidup; takut hidup mati saja…!

Anak-anakku,

Kami ikhlas bila kalian mati syahid dalam perjuangan…!

Tapi kami sedih bila kalian tidak ingin berkembang!

Bapak-bapak wali santri kelas VI ! 

Tibalah kini saatnya kami menyerahkan putra-putri bapak dan ibu…! Hanya inilah kemampuan kami melaksanakan amanat bapak dan ibu dalam mengajar dan mendidik putra-putri bapak dan ibu. Kami telah berusaha siang dan malam tidak kenal dan bosan, tapi kami yakin tidak akan memuaskan bapak dan ibu karenanya kami mohon maaf.

Bapak-bapak yang terhormat.

Kami mohon keikhlasan bapak dan ibu ada di antara putra-putri bapak dan ibu yang kami hukum, kami jemur bahkan kami pukul, semua itu bukan benci tapi karena tanggung jawab. Ada pula putra-putri bapak dan ibu yang kami pilih dan kami tugaskan untuk mengabdi di Pondok ini dan di Pondok-pondok alumni serta di Pondok-pondok lain…!

Keihlasan bapak dan ibu akan menjadi rel dan sayap untuk menuju surga.

Kami haturkan terima kasih atas kepercayaan bapak-ibu terhadap pondok pesantren Daar el-Qolam ; kami mohon do’a agar pondok yang diamanatkan pendirinya kepada kami, menjadi besar, bermanfaat, berkembang, Sesuai dengan tuntuan amanat pendiri pondok dan ridha Allah SWT.

Anak-anakku,

Maafkanlah kami guru-gurumu, ada di antara kalian :yang kami marahi, kami jemur, bahkan kami tempeleng, semua itu bukan berarti kami benci, tapi kami ingin kalian menjadi anak sesuai dengan amanat kedua orang tuamu…!

Akhirnya anak-anakku….. selamat jalan !

Kobarkan terus semangat belajarmu, berjalanlah sampai ke batas, berlayarlah sampai ke pulau, mendakilah sampai ke puncak. Tak ada gunung yang tak dapat di daki, tak ada lautan yang tak dapat disebrangi, tak ada daratan yang tak dapat dilalui, bila terdapat tekad yang terpatri, bila semangat juang tetap gigih dimiliki, pasti kemenangan menjadi kenyataan, Ingatlah anak-anakku doa kami menyertaimu.

 

Tag: , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: